Rabu, 18 November 2015

NILAI TOLERANSI PADA MAHASANTRI
MA’HAD SUNAN AMPEL AL-ALY (MSAA)

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas Ujian Akhir Semester 1 mata kuliah Pancasila dan Kewarganegaraan yang diampu oleh dosen :
TEGUH SETIABUDI, M. H

Disusun oleh :

Dewiratri Nur’ilmi
NIM. 14220016






  


JURUSAN HUKUM BISNIS SYARIAH
FAKULTAS SYARIAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

2014















BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Lahirnya pesantren mahasiswa adalah upaya untuk memadukan tradisi akademik dan tradisi pesantren. Fenomena ini bukan berarti menunjukkan ketidakberdayaan perguruan tinggi , tetapi sebaliknya menunjukkan tanggungjawab moral sebuah pendidikan tinggi di tengah hingar bingar pendidikan hedonisme pendidikan yang terus menggerus dan meminggirkan moralitas dan etika. Di samping itu pesantren ternyata juga bisa eksis di lingkungan kampus, lingkungan yang dulu dianggap “sekuler”, hal ini menunjukkan bahwa pesantren masih menjadi gerbong moralitas.
Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang atau biasa disebut UIN MALIKI Malang adalah salah satu universitas islam negeri yang telah berhasil menerapkan adanya pesantren mahasiswa yang diwajibkan untuk seluruh mahasiswa semester satu dan semester dua. Keberhasilan tersebut telah membawa universitas ini menjadi perguruan tinggi agama islam negeri terbaik di Indonesia. Eksistensinyapun semakin melesat dan banyak dikenal oleh seluruh masyarakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat asing khususnya. Hal inilah yang menjadi ketertarika tersendiri untuk seluruh alumni sekolah menengah atas sederajat, khususnya yang berbasic islam untuk melanjutkan studinya di perguruan tinggi ini.
Setiap tahun ajaran baru, pendaftar yang terhitung berpuluh ribu calon mahasiswa baru bersaing dari seluruh Indonesia dan mancanegara, dimana mereka memiliki latar belakang budaya, suku, bahasa dan kebiasaan yang berbeda-beda. Setelah dinyatakan sebagai mahasiswa baru di UIN MALIKI Malang secara otomatis mereka juga bergelar mahasantri Ma’had Sunan Ampel Al-‘Aly. Di ma’had ini, setiap individu akan mendapatkan teman baru dan suasana baru yang jelas berbeda dari suasana sebelumnya. Perbedaan akan sangat terasa karena perbedaan latar belakang setiap individu. Sikap toleransi sangat diperlukan karena mereka secara mau tidak mau akan saling membutuhkan. Oleh karena itu, penulis ingin mengkaji nilai-nilai toleransi antar suku mahasantri ma’had Sunan Ampel Al-‘Aly dalam beradaptasi dengan lingkungan dan teman baru dengan tidak melupakan jati diri bangsa Indonesia yang tertera dalam Pancasila.

B.    RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang di atas dapat diambil rumusan masalah yang akan penulis bahas dalam makalah ini sebagai berikut :
1.     Bagaimana pengertian toleransi antar suku?
2.     Bagaimana usaha adaptasi dan toleransi antar suku dan etnis pada mahasantri?
3.     Bagaimana usaha yang dilakukan pengurus ma’had guna menyatukan persatuan antar mahasantri?

C.    TUJUAN
Berdasarkan rumusan masalah yang telah disusun, maka tujuan dari makalah ini sebagai berikut :
1.     Untuk menjelaskan pengertian dari toleransi anatar suku.
2.     Untuk menjelaskan usaha adaptasi dan toleransi yang dilakukan mahasantri.
3.     Untuk menjelaskan usaha yang dilakukan pengurus ma’had guna menyatukan persatuan antar mahasantri.




BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Toleransi antar Suku dan Etnis
Toleransi diartikan sebagai sikap dan tindakan yang menghargai   perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap dan tindakan pada orang lain yang berbeda dari dirinya. Toleransi awalnya sebagai kaidah dalam hubungan antar umat beragama, karena sejarah toleransi sendiri di Barat bermula dari konflik antar umat beragama. Perkembangan berikutnya, toleransi diluaskan pada perbedaan  suku, golongan, sikap dan pendapat pihak lain.
Perluasan makna toleransi dengan demikian akan memperluas skala cakupan yang semakin luas pula dan semakin sulit pula penanganannya bila berhadapan dengan suatu masalah. Jika Pancasila dipersepsikan memuat nilai toleransi dalam skala luas ini, maka juga akan selalu muncul tarik-menarik antara paham liberalisme dan komunitarian, sementara Pancasila sendiri secara filosofis tidak atau belum dikembangkan.
Dengan adanya perluasan makna toleransi, maka dapat disimpulkan bahwa makna atau pengertian toleransi antar suku dan etnis adalah sikap saling menghargai atas perbedaan dan kebiasaan yang dimiliki oleh masing-masing suku dan etnis serta budaya yang telah melekat pada diri individu.

B.      Sikap Toleransi antar Suku dan Etnis pada Mahasantri
Manusia itu menurut kodratnya adalah makhluk sosial, artinya makhluk yang mempunyai kecenderungan untuk berkumpul dengan orang lain, membentuk masyarakat, membangun desa , membangun suku dan sebagainya dan akhirnya membagun sebuah negara yang dipertahankan bersama. Proses sosialisasi dan pembentukan masyarakat mulai dari yang kecil sampai dengan yang besar seperti tersebut di atas terjadi juga bagi bangsa Indonesia. [1]
Demikian juga dengan kehidupan mahasantri di ma’had Sunan Ampel Al-‘Aly. Mereka yang berasal dari berbagai latar belakang dan etnis serta jauh dari keluarga.  Pasti akan membutuhkan keluarga baru, yakni teman-teman baru dan pendamping sebagai orang tua kedua. Dengan kodrat awal manusia sebagai makhluk sosial yang pasti memerlukan bantuan dari orang lain, terutama di lingkungan terdekat.
Rasa persatuan juga perlu ditanamkan dalam jiwa mahasantri. Hal ini karena dalam suatu kelompok pasti memiliki tujuan. Dalam mencapai tujuan suatu kelompok tersebut diperlukan suatu kebersamaan dan persatuan. Dengan menerapkan nilai toleransi, yakni dengan saling menghargai atas perbedaan anggota kelompok tersebut. Apalagi di dalam perkenalan dengan orang baru yang memiliki kebiasaan yang telah melekat pada dirinya. Kebiasaan inilah yang biasanya menjadi faktor penghambat dalam menyatukan misi untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Selain itu mahasantri yang masih berusia remaja tentunya keadaan psikologis yang masih dalam tahap kelabilan. Keegoisan yang tinggi juga dapat menjadi penghambat pemersatu tersebut.
Mahasantri yang umumnya memiliki jiwa religius tinggi dan tekad mahasiswa sebagai agent of change pastinya memiliki pemikiran kreatif dalam menangani perbedaan – perbedaan tersebut. Seperti yang telah diterapkan oleh mahasantri di ma’had Sunan Ampel Al-‘Aly. Dengan menanamkan jiwa persatuan dan sikap saling menghargai dimana kedua hal tersebut merupakan nilai dalam Pancasila yang merupakan dasar Negara Indonesia. Adanya kesadaran agar tetap bersatu dengan tidak melupakan nilai Pancasila dan tetap berlandaskan syariah Islam. Selain itu, rasa saling memiliki menjadi salah satu alat pemersatu diantara mereka.
Tentu tidak semua individu memiliki pemikiran akan penerapan nilai-nilai Pancasila dalam proses sosialisasi dalam lingkungan baru. Untuk mencapai relasi yang diharapkan, sikap saling terbuka yang sepatutnya dan menerima berbagai pendapat dan perbedaan, pastinya akan menciptakan kepedulian dan saling mengerti. Oleh karena itu rasa kebersamaan dan kekeluargaan akan mudah tumbuh dan berkembang, sehingga persatuan mudah tercapai, tujuan yang diharapkan dapat terwujud dengan sendirinya.
Dengan dasar kebangsaan (nasionalisme) dimaksudkan bahwa bangsa Indonesia seluruhnya harus memupuk persatuan yang erat antara sesama warga Negara, tanpa membeda-bedakan suku atau golongan serta berdasarkan satu tekad yang bulat dan satu cita-cita bersama. Prinsip kebangsaan itu merupakan ikatan yang erat antara golongan dan suku bangsa. [2]

C.      Persatuan untuk Mahasantri
Dalam relasi antara nasionalisme dan Pancasila, kaum muda menduduki posisi yang strategis. Generasi muda tidak hanya menjadi obyek, melainkan juga menjadi subyek dalam menafsirkan dan mengamalkan Pancasila. Tentu tidak semua generasi muda menduduki posisi tersebut. Hanya generasi muda yang berjiwa muda yang memiliki posisi strategis. Sedangkan generasi muda yang lain cenderung pasip.
Peran pemuda yang sejak awal terbentuknya Negara bangsa cukup dominan dapat menjadi acuan dalam mempelajari nasionalisme yang bersifat progresif  yang merupakan dasar persatuan. Sifat progresif dan revolusioner Pancasila dapat terus dikembangkan oleh anak-anak muda dan mahasiswa yang memiliki perspektifdan cara berpikir yang baik melalui aktualisasi nasionalisme yang berbasis prestasi. Kesadaran sebagai warga Indonesia yang memiliki harga diri mendorong anak-anak muda mengembangkan prestasi secara optimal. Kreasi dan prestasi anak-anak muda yang tidak kalah dengan bangsa lain merupakan bentuk riil dari aktualisasi nasionalisme yang juga merupakan faktor terciptanya persatuan. [3]
Perencanaan dalam pengelolaan santri di Pesantren Mahasiswa terdiri dari langkah-langkah perumusan visi dan misi, penetapan tujuan dan sasaran, serta melakukan analisis strategis dengan mengidentifikasi kekuatan dan keterbatasan internal serta tantangan dan kendala eksternal. Visi dan misi yang dikembangkan ma’had tidak terlepas dari visi UIN MALIKI Malang. Mekanisme rekruitmen santri menyesuaikan dengan prosedur penerimaan mahasiswa baru yang dilakukan panitia penerimaan mahasiswa baru UIN MALIKI Malang. [4]
Sedangkan ruang lingkup kegiatan  pengorganisasian santri meliputi pengelompokan santri berdasarkan jurusan dan kemampuan, dan penempatan santri pada unit hunian di pondok berdasarkan heterogenitas jurusan, asal daerah dan kemampuan.[5] Sehingga dengan percampuran latar belakang pada unit hunian dapat menumbuhkan rasa persatuan, Bhineka Tungga Ika yang merupakansemboyan persatuan bangsa Indonesia tercinta. Selain itu berbagai kegiatan dan permainan yang difasilitaskan kepada mahasantri dapat memicu keloyalan, kekompakan, kebersamaan, sikap menghargai, sikap saling memiliki dan saling membutuhkan semakin terasa di dalam perbedaan mereka.
Penggerakan dalam pengelolaan mahasantri ini meliputi tahap-tahap pemberian motivasi , komunikasi dan kepemimpinan. Motivasi diberikan melalui kata-kata dan tidakan/penghargaan yang dilakukan oleh semua dewan pengasuh. Komunikasi dilakukan secara formal dan non formal melalui lisan dan tulisan. Kepemimpinan di pesantren mahasiswa ini mengindikasikan kepemimpinan kolektif dan manajemen partisipatif. [6]
Meskipun norma-norma dari nilai Pancasila selalu berkembang dan sering diperdebatkan namun sosialisasi nilai Pancasila tetap dianggap penting. Sosiali Pancasila adalah bagian dari aktualisasi Pancasila yang dpat dilakukan dengan cara revitalisasi epistemologis, menjadikannya sebagai landasan etik pengetahuan , menjadikannya sebagai sumber hukum material dan sosialisasi itu sendiri melalui pendidikan (Kaelan, 2006). Sementara itu aktualisasi Pancasila merupakan problem akademik tersendiri yang perlu penanganannya, disamping problem sumber, tafsir, evolusi pemikiran dan apakah Pancasila itu subject of change. (Pranarka, 1985).
Proses intervensi karakter toleransi dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan mengorganisasikan isi dan modusnya. Isi karakter toleransi diwujudkan dalam suatu materi pembelajaran. Sementara modus berkaitan dengan cara/strategi/metode yang digunakan untuk mengembangkan nilai tersebut. Jika kita menggunakan ragam metode pendidikan karakter dalam religiulitas antara lain; pembiasaan, keteladanan, pujian dan sanksi, qishah/sejarah, hiwar/dialog, tafakkur/kontemplasi, dan amtsa/metafora (Ahmad Taufiq, 2011).
Pada akhirnya, wacana pendidikan karakter toleransi dan Pancasila sebagai salah satu sumber nilai karakter tidak hanya berhenti pada pengungkapan gagasan dan diperdebatkan. Perdebatan sekitar pemikiran Pancasila serta pendidikan karakter memang tidak berkesudahan. Namun demikian, sebagian energy kita perlu segera beralih pada problem aktualisasinya.
















BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
1.     Toleransi diartikan sebagai sikap dan tindakan yang menghargai   perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap dan tindakan pada orang lain yang berbeda dari dirinya.
2.     Sikap toleransi antar suku dan etnis pada mahasantri ;
a.      Menerapkan nilai toleransi, yakni dengan saling menghargai atas perbedaan anggota kelompok.
b.     Menanamkan jiwa persatuan dan sikap saling menghargai dimana kedua hal tersebut merupakan nilai dalam Pancasila yang merupakan dasar Negara Indonesia.
c.      Adanya kesadaran agar tetap bersatu dengan tidak melupakan nilai Pancasila dan tetap berlandaskan syariah Islam. Selain itu, rasa saling memiliki menjadi salah satu alat pemersatu diantara mereka.
d.     Untuk mencapai relasi yang diharapkan, sikap saling terbuka yang sepatutnya dan menerima berbagai pendapat dan perbedaan, pastinya akan menciptakan kepedulian dan saling mengerti. Oleh karena itu rasa kebersamaan dan kekeluargaan akan mudah tumbuh dan berkembang, sehingga persatuan mudah tercapai, tujuan yang diharapkan dapat terwujud dengan sendirinya.
3.     Usaha pengurus
a.      Percampuran latar belakang pada unit hunian dapat menumbuhkan rasa persatuan, Bhineka Tungga Ika yang merupakansemboyan persatuan bangsa Indonesia tercinta. Selain itu berbagai kegiatan dan permainan yang difasilitaskan kepada mahasantri dapat memicu keloyalan, kekompakan, kebersamaan, sikap menghargai, sikap saling memiliki dan saling membutuhkan semakin terasa di dalam perbedaan mereka.
b.     Penggerakan dalam pengelolaan mahasantri ini meliputi tahap-tahap pemberian motivasi , komunikasi dan kepemimpinan.
c.      Ragam metode pendidikan karakter dalam religiulitas antara lain; pembiasaan, keteladanan, pujian dan sanksi, qishah/sejarah, hiwar/dialog, tafakkur/kontemplasi, dan amtsa/metafora (Ahmad Taufiq, 2011).


B.    SARAN
1.     Untuk masyarakat
Makalah ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan baru bagi masyarakat mengenai kehidupan pesantren mahasiswa. Dimana didalamnya terdapat berbagai macam dan beragam manusia dengan latar belakang yang berbeda-beda. Dari hal tersebut tentunya meraka juga akan bersosilisasi langsung dengan masyarakat, sehingga sikap toleransi tidak akan hanya diterapkan di dalam ma’had dan kampus, tapi juga di luar bersama masyarakat.

2.     Untuk mahasiswa/mahasantri
Kepada mahasiswa/mahasantri baru agar senantiasa mengerti dan mengetahui semua tentang perbedaan dan apa yang harus dilakukan dilingkungan yang baru. Segala perubahan pasti akan terjadi. Jadi menerapkan nilai Pancasila yakni toleransi (sikap saling menghargai) adalah kunci utama agar kita bisa menjalani proses mencari ilmu sesuai dengan harapan kita, kedua orang tua dengan tetap berdasarkan nilai Pancasila tanpa meninggalkan Syar’i. Dan apa-apa yang diterapkan oleh pengurus, semata-mata demi kebaikan mahasiswa/mahasantri itu sendiri.


DAFTAR PUSTAKA

Fadjar , Malik. 1992. Pancasila Dasar Filsafat  Negara. Malang : UMM Press.
Kansil, CST & Christine ST Kansil . 2011. Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara. Jakarta : Rineka Cipta.
Hariyono.  2014. Ideologi Pancasila.  Malang : Intrans Publishing.
Mu’awanah. 2009. Manajemen Pesantren Mahasiswa. Kediri : STAIN Kediri Press.



[1] Malik Fadjar. Pancasila Dasar Filsafat Negara. Malang : UMM Press. 1992. h. 88.
[2] Kansil, Christine. Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara. Jakarta : Rineka Cipta. 2011. h. 34.
[3] Hariyono. Ideologi Pancasila.  Malang : 2014. h. vii
[4] Mu’awanah. Manajemen Pesantren Mahasiswa. Kediri : STAIN Kediri Press. 2009. h. 113
[5] Ibid. h. 114
[6] Ibid. h. 114

Sabtu, 09 Agustus 2014

YE..!!! UDAH GEDE :D Bagaimana Menjadi Remaja? (Eps.2)

Bismillahirrohmaanirrohiim… Assalamu’alaikum teman J
Apa kabar? Semoga sehat selalu ya J aamiin…
            Mungkin sebagian dari kalian bertanya-tanya, “yee, pendatang baru ya di blog? |Huu, baru update. | Ih, blognya isinya cuma satu. | yee, desaingnya gitu-gitu aja |” -_______-“
Oke okee… Fine. Saya mengenal blog semenjak kelas 7. Iya, kelas 1 SMP. (Kenal aja?) Ya enggak, buat juga lah. Sudah beberapa saya isi. Tapi blog pertama saya sudah nggak tau nasibnya, nggak bisa dibuka, lupa passwordnya -__-“
Iya, memang saya baru update. Saya memang mengenal blog semenjak 6 tahun lalu, tapi saya mulai suka menulis, yaaa baru-baru ini :3 ha ha ha (nggak lucu -___-“ )
Karena isi blog saya masih satu, makanya saya buat lagi biar nggak satu lagi :D
Memang desaign nya nggak asik, tapi isinya asik kan :3
            Sekarang ayo kita kembali ke topic. (Emang tadi topiknya apa? :O) Ya kelanjutan dari postingan yang pertama kemarin. “BAGAIMANA MENJADI REMAJA?”. Nha, pada episode kedua ini, Saya mau mengajak teman-teman remaja semua buat berdiskusi tentang kehidupan remaja lebih luas lagi. Biar agak menarik, agak asik, agak keren dikit, agak nggak bosen dikit, Saya kasih judul “YE…!!! UDAH GEDE :D”. (prok prok prok :D )
            Husst… jangan mikir yang aneh-aneh lo yaa… Ingat tujuan tulisan ini adalah untuk mengajak kalian, teman-teman remajaku, para calon orang-orang sukses, agar senantiasa menjalani kehidupan remaja dengan baik. Maksud dari judul yang saya ambil ini adalah, ungkapan rasa senang seorang anak yang sudah beranjak dewasa. Berarti kan mereka udah tambah gede. (he’em he’em, masuk masuk masuk akal).
            “Ye.. Sweet seventeen. Cie udah gede. Berarti aku boleh pacaran dong. Aku mau main keluar rumah tiap weekend sama temen-temen naik motor. Naik mobil.”
            “Punya HP keren. Style fashion terbaru nggak boleh ketinggalan.”
            “wah, ada yang cantik. Udah ganteng belum?”
            “Ada cowok ganteng. Aku udah cantik belum? Udah manis kan?”
            “Anak muda, masak cangkul-cangkul?”
            “tanganku merah-merah kalo habis nyapu. :3”      
            “Ma, Pa. aku mau ke pitza nut ya. Sama mau beli berger. Makan spageti juga “


-______________________-“

Hellooo…!!! Kok jadinya hedonism gini?? :O Wah wah…. -_-“
Hey, mumpung masih remaja kan? Kita nikmati masa remaja yang sangat indah ini :D

“INGAT TEMAN, JANGAN DICONTOH. ITU BUKAN CONTOH YANG BAIK. INGAT!! INGAT!!”

REMAJA. Remaja itu bukan masa untuk foya-foya. Remaja itu bukan masa untuk aji mumpung. Bukan pula masa untuk seenaknya sendiri. (Kalo aji mumpung, ya di ambil yang positif aja lah J)
Jangan mentang-mentang kita udah beranjak usia belasan tahun, udah sweet seventeen, udah pakek abu-abu putih, trus punya gandengan,  apalagi  yang masih biru putih malah udah kemana-mana boncengan sama teman lawan jenisnya. (Hadeeh, bocah jaman saiki. -_-“ | Lha kamu apa bukan anak jaman sekarang? :O | Iya juga sih, tapi ya nggak segitunya kali. -_-“ |)

            Pada masa remaja seperti ini, punya HP keren, style yang selalu up date, makan dan minum yang berkelas, punya motor keren, selalu aktif di sosmed, itu semua nggak salah teman. Ya memang begitulah remaja. Suka sama lawan jenis, hal biasa. Iya kan.
Tapi, ingatlah teman, berkat siapa kita bisa menikmati semua fasilitas itu?  Karena siapa kita bisa merasakan itu semua?
Yups, yang pertama itu semua karena kesempatan yang diberikan oleh Tuhan kita, Allah SWT. Atas kehendak-Nya kita diberikan nikmat hidup, bernafas, makan, dan berkumpul dengan manusia lain. Coba kalau kita hitung, wes pakek kakulator ae seng cepet tur enak, berapa banyak nikmat yang sudah diberikan-Nya kepada kita. Oksigen, air, angin, panas matahari, makan, minum, kesehatan, dan rumitnya proses kerja dalam tubuh kita. Sudah ketemu berapa nikmat Allah kepada kita? Dan berapa kali kita mengucapkan syukur? Dan berapa kali kita mensyukurinya? Berapa kali pula kita mengeluh? (Ya Allah, ampunilah kami)
Tak perlu ditutup-tutupi Saya juga masih kurang dalam hal itu, maka dari itu, saya ingin memotivasi diri saya sendiri melalui tulisan ini. Syukur alhamdulilah jika teman-temanku semua, calon orang-orang sukses juga ingin menemani saya untuk membiasakan bersyukur atas nikmat-Nya kepada kita.  Dia memberikan segalanya kepada kita tanpa memungut biaya. Dan hanya satu yang Dia inginkan, bersyukur dan taat kepada-Nya. (itu dua lo :/ | Eh iya dua| )
Gimana kita bersyukur? Dengan mengucap hamdalah/Alhamdulillah, memanfaatkan segala nikmat dengan melakukan hal-hal yang positif, berbagi dengan sesama, selalu beribadah dan meminta hanya kepada-Nya. Insya Allah apa yang telah kita dapat bisa membawa barokah dan senantiasa mendapat ridha dari-Nya. Aamiin J
            Yang kedua, karena kedua orang tua kita. Bapak-Ibu, Ayah-Bunda, Mama-Papa, Umi-Abi. Karena kehendak Allah mereka bertemu dan atas ridha Allah kita terlahir di dunia ini. Oh ya teman-teman, saya pernah mendapat cerita dari guru saya. Tau nggak kalian saat bayi lahir bagaimana posisi tangan mereka? Mengenggam kan? Mengepal kan? Apa arti tangan mengepal?  Ya..!! Berjanji, bersumpah, berjuang, berperang. Berjanji dan bersumapah bahwa saat kita lahir di dunia akan selalu beribadah kepada Sang Pencipta dan selalu taat kepada kedua orang tua kita. Berjuang dalam lika-liku kehidupan di dunia. Dan berperang melawan segala hal-hal buruk. Dan setiap orang yang pernah lahir , saat keluar pasti mengepalkan tangan. Maka dari itu, jadi setiap orang di dunia ini pasti memilki janji itu semua. Bukankah janji harus ditepati? Mari kita renungkan. Percaya atau tidak, itu semua kembali pada diri kalian masing-masing.
Kembali ke orang tua. Mulai dari kehadiran kita di Rahim ibu, pasti mereka sangat senang dan berhati-hati agar kita selalu sehat. Ibu rela mengerjakan semua kegiatan dengan membawa kemana-mana kita yang ada dalam perutnya. Ayah yang berjuang  mencari uang untuk perawatan perkembangan kita. Menyiapkan berbagai perlengkapan untuk menyambut kita. Nha, waktu ibu “ngidam”, keinginan yang  sangat kuat, aneh-aneh, dan ayah berjuang mencarikannya, walaupun lautan api membentang pasti akan disebrangi oleh ayah. Subhanallaah :’)
Saat kita lahir, saat kita mengeluarkan tangisan , mengeluarkan air mata karena menangis kencang, tapi ingatlah, air mata kebahagiaan mengalir dari kedua mata orang tua kita. Di peluklah kita oleh ibu, dikumandangkanlah adzan dan iqomah di kedua telinga kita oleh ayah. Diberikan nama yang indah dengan harapan menjadi anak yang selalu bebakti kepada agama, dan kedua orang tua.
Saat kita batita dan balita, ibu merelakan waktu istirahatnya untuk kita.
Gini wes, untuk masalah semua jasa-jasa kedua orang tua kita nggak perlu saya jelaskan,. Pasti teman-teman semua sudah mengerti. Bakalan ngantuk kalian kalau saya tulis semuanya, nggak bakal ada habisnya. Tuhkan jasa kedua orang tua nggak bakal ada habisnya. So, apa kalian masih grundel kalau beliau berdua memintai pertolongan kita?
            Yang ketiga karena factor lingkungan di sekitar kita. Ya, lingkungan. Keluarga, saudara, teman-teman, tetangga.Merekalah orang yang paling dekat dengan kita. Hey bro, ingat kita ini diciptakan sebagai makhluk social, kalau kalian individualisnya kelewatan, jangan harap bisa hidup.  -__-“ (iyo gak? :O iyo kan?)
Yah terkadang lingkungan memang menyebalkan bagi sebagian remaja. Terutama lingkungan tetangga.
            “Pulang sekolah kok sampai maghrib. Sekolah apa main?”
            “kok libur-libur masuk. Masuk sekolah apa dolan?”
            “tiap berangkat sma pulang sekolah kok di jemput mulu?”
Atau mungkin dari keluarga says,
            “Ke sekolah mulu, kegiatan mulu, kapan ada waktu sama keluarga?”

-_____________-“

Hellooo,,, keep calm guys. J Biarlah mereka mengatakan seperti itu. Biarlah mereka menganggap kita seperti itu. MARI KITA BUKTIKAN, BAHWA APA YANG KITA LAKUKAN TAK SEPERTI YANG MEREKA PIKIRKAN. (gitu kan..? :D )
Tapi, jika memang perkataan mereka ada benarnya, janganlah kita terlalu memasukkan ke hati. MARI KITA INSTROPEKSI. AMBIL HIKMAH DARI ITU. DAN MEMBUKTIKAN BAHWA KITA BISA MENJADI INSAN YANG BERMANFAAT BAGI MEREKA J (y) (setuju..?! :D )
           
Ingat sob, jadi remaja itu memang labil, galauan, gampang perasaan dan lain sebagainya. Tapi mbok yo JANGAN PSIMIS wae to alah rek rek. Biasanya itu, para remaja kalau udah kena labeling, atau pengecapan, apa yang sudah dilabelkan itu malah dijadikan kebiasaan. Yo tambah rusak rek, kalau kalian seperti itu terus. Psimis mulu. Kapan jadi orang suskses. (yo opo nggak? )
(Lha, tapi kalau labelingnya yang baik-baik masak ya ditolak? :/)
Kalau ini lain lagi sob. Kalian sudah baligh kan? Gak ngerti? Gini wes, yang cowok udah mimpi basah kan? Yang cewek udah menstruasi kan? Kalau kalian sudah mengalami itu semua, pastinya kalian sudah dianggap dewasa dan mampu membedakan mana yang BAIK dan mana yang BURUK, menurut agama, menurut norma di lingkungan, dan menurut undang-undang yang berlaku di Negara kita.
Nha kalau kalian sudah bisa membedakan mana yang baik dan buruk, pasti kalian bisa memutuskan sendirikan, mana hal yang harus kita biasakan dna mana yang harus kita buang?


Jadi intinya teman, “UDAH GEDE” itu berarti kita sudah mengalami tanda-tanda pubertas. Di masa itu akan terjadi berbagai perubahan dalam segala hal, terutama cara berfikir. Fikirkan mana yang baik dan mana yang buruk. Mari kita renungkan mana yang patut kita ambil dan ikuti atau yang mana yang harus kita buang dan kita tinggalkan.

Ingat teman mari kita menjadi remaja cerdas.
J

Kamis, 07 Agustus 2014

Bagaimana Menjadi Remaja?

Bismillaahirrohmaanirrohiim,,,, Assalamu’alaikum wr.wb….
Apa kabar para remaja?? Semoga kita selalu dalam perlindungan Allah SWT. Aamiin J  Alhamdulillaah, pada kesempatan kali ini,kita masih diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk menikmati indahnya lika-liku kehidupan perubahan, pubertas, atau “REMAJA”.
            Saya juga seorang remaja yang sekarang berusia 18 tahun. Saya adalah maha siswa baru (2014) di suatu Universitas di Jawa Timur.  Saya bukanlah seorang remaja yang pandai dalam menulis, tapi Saya selalu berkeinginan untuk mencurahkan apa yang Saya dapatkan, untuk teman-teman teenager .
            Masa remaja memang bukanlah pilihan. Setiap orang yang lahir di dunia ini pasti akan dan pernah merasakan indahnya kehidupan masa remaja. Masa remaja,,,, ya,, masa remaja.! Masa transisi, masa perubahan dari masa anak-anak menuju kejenjang kedwasaan. Masa remaja akan mulai terasa saat seseorang berusia, pada  umumnya usia SMP. Mereka akan mulai merasakan apa itu remaja. Pada masa itu, mereka tidak mau dikatakan sebagai anak-anak, tetapi mereka juga belum mampu jika mengerjakan apa yang dikerjakan oleh orang-orang dewasa. Lalu disebut apakah mereka? Karena itulah mereka disebut “REMAJA”.
            Remaja merupakan masa-masa yang indah. Yaaa,,, banyak orang mengatakan seperti itu. Dimana seseorang akan mengalami suatu perubahan. Baik perubahan secara fisik dan psikis. Jika membicarakan suatu perubahan secara fisik, pasti teman-teman sudah mengetahuinya. Namun untuk perubahan secara psikis, teman-teman juga mengetahuinya, tapi tak semua dapat mengerti dan memahaminya. Bahkan mungkin Saya sendiri.
Pada perubahan psiskis (kejiawaan), seorang remaja akan memiliki tingkat emosi yang sangat labil. Sebelum kita membahas lebih jauh tentang emosi, perlu Saya luruskan. Emosi bukanlah perasaan megatif yang mana sebagian besar remaja mengartikannya dengan amarah. Namun Emosi adalah suatu perasaan. Entah iu perasaan positif maupun negative.
Kita kembali pada kelabilan emosi remaja. Seorang remaja akan mengalamai suatu,,, mungkin jatuh cinta, simpati, empati, ngefans, fanatic, kegalauan, keceriaan dan sebagainya. Terkadang semua rasa itu muncul dalam waktu yang bersamaan, sehingga seorang remaja tak bisa mengontrol dan timbullah kebingungan yang luar biasa sehingga mereka biasa menyebutnya “Galau”.  Mereka akan merasa dirinya adalah tokoh utama dalam cerita kehidupannya. Tapi ingatlah teman..!!! kehidupan kita berwarna warni karena adanya orang-orang disekeliling kitaJ
            Remaja memang tak bisa dipisahkan dengan hal-hal  seperti itu. Saat mereka mengalami masa pubertas pertama mereka, saat mereka mulai merasakan rasa tertarik dengan lawan jenis, itu memang hal sangat biasa dalam kehidupan seorang remaja, apalagi Saya. Saya juga pernah merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta, suka dengan seseorang yang menurut pandangan Saya, Dia adalah sosok yang sangat luar biasa. Yap… Saya ulangi “menurut pandangan….” Saat remaja merasakan “tertarik” dengan lawan jenis, kebanyakan dari mereka melihat dari pandangan mata mereka. Atau lebih simplenya mereka bilang, “CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA” -_-“ Okelah teman, Saya memaklumi, itu adalah hal yang wajar. Pada saat pertama kali kita merasakan suka dengan lawan jenis, diantara dari kita termasuk Saya akan mengatakan hal itu.Mungkin itu karena kita belum pernah merasakannya sebelumnya. Saya tak perlu mengatakan bagaimana rasanya, kalian pasti sudah tahu. Seperti dunia milik berdua, hati berbunga-bunga atau semacamnya.
Tapi teman, cobalah kita pahami kembali. Apakah kita hanya melihat dari mata kita?? Mengapa kita tak melihat dengan mata hati kita juga?? Yup… Karena pada saat itu kita masih belum mengerti.
Tapi, apakah tidak lebih baik kalau kita sekarang belajar dari hal tersebut??
Mari kita tata ulang perasaan kita kepada orang lain dari sudut pandangan (mata) kita. Jika memang kita merasa suka dengan lawan jenis, mari kita juga melihat dengan mata hati kita. Mata di kepala kita tidak cukup untuk melihatnya, karena setan akan mudah untuk membutakannya dan akan menjerumuskan masa depan kita.

Mari kita tata ulang, prinsip kehidupan kita untuk membangun masa depan cerah yang sekarang sedang dan pasti menunggu kita. InsyaAllah, dengan kita menata prinsip, cita-cita, dan pandangan kita, kita akan benar-benar bisa merasakan keindahan dan kenikmatan yang sebenarnya dari kata “REMAJA”